Berbisnis Katalog Album di Masa Pandemi Korona

Berbisnis Katalog Album di Masa Pandemi Korona


Sebenarnya saya ingin merilis tulisan dengan tema ini pada masa pandemi bulan Juni/Juli 2020 lalu, karena 'isu' soal jual-menjual katalog album internasional lagi ramai dan nampak akan 'booming'. Dan akhirnya pada minggu lalu 7 Desember 2020, industri musik global 'geger' dan banjir ungkapan 'wow... wow... wow'. Setelah saya baca artikel soal Bob Dylan, akhirnya saya coba tuntaskan tulisan singkat dan ringan di blog ini. Semoga artikel ini bisa menumbuhkan ide gagasan bisnis musik terkini, serta membuka peluang baru di dunia bisnis hiburan khususnya di Indonesia.

Menyambung mengenai bahasan Bob Dylan yang menjual hak cipta musiknya sebanyak 600 karya lagu, termasuk diantaranya lagu yang sangat populer seperti Knockin' on Heaven's Door dan Blowin' in the Wind, yang dibeli oleh pihak Universal Music Group / Universal Music Publishing Group senilai kisaran 4,2 - 5,6 triliun. Beberapa kabar menyatakan bahwa lagu tersebut dibeli antara 300 juta hingga lebih dari 400 juta dollar AS. Karena Bob Dylan nampaknya juga menerima tawaran dari pihak lain hingga akhirnya menjatuhkan pilihannya kepada Universal Music Publishing Group (UMPG), yang merupakan 'rumah' dari Taylor Swift, Adele, Ariana Grande, dll. Ada kemungkinan UMPG membayar lebih di atas 400 juta dollar AS. Atau mungkin saja Bob Dylan lebih percaya dengan eksistensi UMPG dan dianggap lebih mumpuni dalam mengelola karya-karya lagu terbaiknya yang nantinya juga bakal bisa dinikmati oleh para ahli waris Bob Dylan.

Bob Dylan yang pada bulan Mei lalu genap berusia 79 tahun, memulai debutnya di tahun 1962, dan telah merilis lebih dari 50 album penuh, belum termasuk puluhan mini album (EP), dan ratusan single. Tentunya bagi pihak Universal Music Publishing Group ini bakal jadi momen besar buat mereka. Dengan modal 600 lagu dan berbagai keperluan pemasaran, maka siap-siap 'banjir' kontrak dan pendapatan royalti dari film-film, iklan komersial, streaming, cover version, dan berbagai penggunaan lisensi. Lagu-lagu Bob Dylan telah di-cover lebih dari 6000 kali, mulai dari Duke Ellington, Jimi Hendrix, Guns N’ Roses, Stevie Wonder, Rod Stewart, Adele dan U2. 

Oya, hingga saat ini untuk keperluan publishing internasional atas lagu-lagu Bob Dylan di luar Amerika Serikat masih dikelola oleh pihak Sony/ATV yang bekerjasama untuk jangka waktu 20 tahun. Lucunya, pihak Sony/ATV tidak mengetahui sama sekali soal rencana penjualan katalog 600 lagu Bob Dylan ini.

Berbisnis Katalog Album di Masa Pandemi Korona


Menurut pendapat awam saya, bisnis musik dan investasi yang membungkus pengelolaan hak cipta serta manajemen lagu ini, khususnya konten back catalogue, bakal tumbuh berkembang di masa yang akan datang dan bisa jadi peluang baru bagi musisi/pencipta lagu, serta peluang baru bagi pihak investor industri musik. Ini merupakan satu-satunya bisnis musik yang tahan banting dan tahan pandemi. Beberapa konsep perusahaan yang bergaya IP investment dan manajemen lagu ini, yang saya ikuti dan sedang saya pelajari adalah Hipgnosis, Primary Wave, Concord, dan Round Hill. Mereka sangat gencar berburu aset katalog-katalog artis ternama untuk diakuisisi. Bagi mereka katalog musik bisa dijadikan aset jualan hingga mampu masuk ke pasar modal atau bursa efek. 

Saya berharap akan ada perusahaan ekuitas swasta nasional (private equity) yang berani terjun di bidang investasi seperti ini. Dengan harapan dan cita-cita besar untuk mendukung kemajuan musisi dan kesejahteraan para pencipta lagu nasional kita. Tidak bisa dipungkiri adanya COVID-19 merubah semuanya. Artis-artis internasional yang biasanya dengan konser tur keliling dunia bisa meraup ratusan miliar hingga triliunan tiap tahunnya, sementara di tahun 2020 ini selama hampir 10 bulan hanya bisa duduk manis di rumah tanpa ada pemasukan yang berarti, alias kering kerontang. Demikian pula kondisi musisi nasional kita, tidak semuanya bisa 'menikmati' gaya dan konsep konser virtual yang lagi marak. Dan tidak semua lagu juga memberikan income lebih dari layanan-layanan streaming.

Di masa pandemi ini, secara random berikut beberapa artis internasional yang telah 'menyerahkan dan menjual' karya-karya mereka kepada perusahaan ekuitas swasta ataupun music company:

  • Bob Dylan (Universal Music Publishing Group)
  • Steve Nicks (Primary Wave)
  • The Killers (Eldridge Industries)
  • Imagine Dragons (Concord)
  • Tom DeLounge (Hipgnosis)
  • Blondie (Hipgnosis)
  • Richie Sambora (Hipgnosis)

Selain Bob Dylan dan nama-nama tersebut, bisnis yang sama juga dilakukan banyak artis lainnya dan menurut saya tren-nya masih akan terus bertambah. Seiring dengan belum dilaksanakannya vaksinasi, situasi global yang serba tidak pasti, dan masih tertundanya konser-konser outdoor ataupun indoor. Kisah artis lainnya seperti yang pernah saya posting di FB Page pribadi pada 24 Oktober 2020 soal Calvin Harris (DJ, artis, produser) yang juga menjual katalog 150 lagu miliknya ke perusahaan investasi di bidang media dan hiburan 'Vine Alternatives Investments' senilai hampir 1,5 triliun.

Berbisnis Katalog Album di Masa Pandemi Korona

Hak cipta, hak intelektual, dan hak penerbitan musik kesemuanya adalah berbicara mengenai aset dan pengelolaan. Dan aset-aset tersebut mampu memberikan 'kehidupan baru' bagi lagu-lagu/karya lama yang populer. Di sisi investor ini merupakan alternatif, cara terbaik, dan peluang baik untuk berinvestasi! 

Tulisan saya di blog ini bulan lalu, "Memasarkan Kembali Lagu-Lagu Lama di Era Digital" salah satunya adalah menggagas untuk menjual dan memaksimalkan kembali karya-karya lama yang populer dan berpotensi blue chip. Generasi sekarang perlu diperkenalkan dengan konten-konten yang berkualitas. Karena bagi saya back catalogue selalu menarik, memiliki value lebih, dan bisa jadi sesuatu.

Saat menyelesaikan artikel ini, saya sedang mendengarkan secara berulang "The Times They Are A-Changin' - Bob Dylan"... 

for the loser now will be later to win, for the times they are a-changin'...


Foto: Brett JordanCaught in Joy, Tim Toomey

Komentar

Artikel Populer