Saatnya 'Pivoting' Bagi Para Pekerja Musik

Saatnya 'Pivoting' Bagi Para Pekerja Musik
Apa kabar para pekerja musik di masa pandemi? Memasuki tengah bulan Juni 2020, mungkin bagi sebagian besar masyarakat di berbagai kota ini sudah memasuki hitungan hampir 100 hari masa karantina di rumah, akibat pandemik korona alias COVID-19 alias SARS-CoV-2 alias koronavirus sindrom pernapasan akut berat (2).

Meminjam dan mengutip istilah dari para pegiat startup mengenai pivoting ini. Pivoting adalah melakukan perubahan saat menyadari bahwa apa yang sudah dilakukan tidak lagi bisa berjalan. Jadi memang kita semuanya sebagai pekerja di sektor informal dituntut untuk terus 'melanjutkan hidup'. Kita tinggalkan sementara pekerjaan lalu dan aktivitas yang lama di bidang industri kreatif, dan memulai hal-hal baru sambil menanti situasi yang sangat memungkinkan bagi para pekerja musik untuk berkarya kembali.

Konsep-konsep new normal atau kenormalan/tatanan baru sudah mulai diperkenalkan dan akhirnya bakal jadi permakluman dan akan diikuti oleh masyarakat. Apapun usaha atau pekerjaan baru yang dilakukan oleh para pekerja musik nantinya adalah merupakan kunci untuk terus bertahan. Dan sebenarnya yang perlu terus dilakukan adalah mengasah skill, belajar meningkatkan kemampuan. Terlepas dari pro-kontra konsep PraKerja milik pemerintah, era internet ini memudahkan kita untuk bisa mengakses sumber ilmu apapun.

Tentunya kegiatan bisnis konser musik ataupun event-event yang selama ini menjadi sumber pendapatan utama (yang besar) bagi para musisi, manajer, teknisi, kru, hingga staf manajemen, nampaknya (mungkin) belum akan bisa terealisasi hingga menjelang akhir tahun (November - Desember 2020). Ini menurut pendapat saya, melihat pertimbangan rencana pilkada yang diwacanakan pada awal Desember 2020 masih menimbulkan banyak pertentangan dan polemik. Dan pada Selasa 2 Juni 2020 lalu, pemerintah sudah memutuskan untuk tidak memberangkatkan jemaah haji pada tahun 2020 atau tahun 1441 Hijriah, dan menunda hingga tahun depan.

Kemungkinan-kemungkinan yang bisa terjadi di akhir tahun 2020 ini terkait dengan peluang bagi para musisi dan sesuai dengan protokol kesehatan pencegahan COVID-19, menurut saya adalah dimungkinkannya acara-acara yang bersifat private atau terbatas, misal sebagai berikut:

  • band atau musisi solo tampil di event wedding dengan total pengunjung maksimal 50 orang

  • band atau musisi solo mendapat undangan konser dalam rangka birthday party dengan jumlah undangan terbatas

  • event ultah korporasi perusahaan swasta/BUMN diadakan dalam skala kecil mengundang artis musisi untuk memeriahkan acara


Sedangkan untuk kegiatan ataupun event-event konser secara virtual atau live streaming di berbagai platform, menurut saya akan tetap terus berjalan hingga masa-masa akan datang dan akan menjadi satu 'layanan baru' bagi musisi-musisi di berbagai belahan dunia, meski sebenarnya tidak membawa dampak 'besar' bagi para wong cilik seperti kru ataupun teknisi band, apalagi yang sudah berkeluarga dan berkewajiban untuk menafkahi istri dan anak-anak.

Salam sehat selalu untuk kita semuanya, dimanapun berada...

 

Foto: Kelly Sikkema

 

Komentar

Postingan Populer