Pemasaran Musik dengan TikTok

Masih ingat dengan Bowo 'Alpenliebe TikTok'? Dia sudah punya pacar baru sekarang he he... Dan bagi yang belum mengenal TikTok, TikTok adalah aplikasi video pendek yang digemari anak-anak kekinian. Aplikasi yang kabarnya sudah memiliki lebih dari 600 juta pengguna, tersedia di lebih dari 150 negara dan dalam 75 bahasa, memiliki strategi lokalisasi konten yang relevan terhadap tren budaya lokal. Bagaimana aplikasi TikTok yang awalnya adalah Musical.ly ini terkait dengan pemasaran musik nasional hingga eksis ataupun viral? Berikut beberapa bahasan mengenai pemasaran musik dengan TikTok.

Pada awal April 2019 TikTok meluncurkan TikTok Spotlight, satu program yang mendukung musisi independen untuk berkreasi dan memberikan akses global. Awalnya program 'TikTok for Artists' ini dirilis di Jepang dan Korea, bekerjasama dengan perusahaan-perusahaan rekaman dan penerbit musik lokal. Jadi musisi bisa langsung mengunggah/upload konten yang dimiliki, dan musiknya bisa langsung diakses oleh para pengguna TikTok di seluruh dunia. Selain itu, dari tim pemasaran TikTok juga menerapkan kurasi dan memberikan dukungan penuh khususnya bagi musisi-musisi pendatang baru terpilih dan talen-talen kekinian.

Soal TikTok Spotlight ini saya pernah mencoba mengonfirmasikan kepada Head of User and Content Operations TikTok Indonesia pada 7 November 2019 melalui akun Twitter-nya, namun nampaknya jarang aktif. Saya menanyakan apakah program ini sudah bisa diakses di Indonesia. Jika kalian memiliki konten musik dan ingin diunggah ke TikTok dan didistribusikan ke platform lainnya supaya lebih eksis, bisa juga menggunakan jasa aggregator berbayar seperti DistroKid.

Oiya, tidak lama lagi ByteDance juga bakal meramaikan dunia pengaliran musik (streaming) dengan merilis layanan musik berbayar TikTok Music pada akhir tahun ini. Sejak hampir dua bulan lalu posisi lowongan 'content manager' untuk TikTok Music Indonesia sudah diterbitkan di LinkedIn. Jadi memang nampaknya kita bakal memiliki banyak pilihan untuk platform pengaliran musik internasional.

Dan jangan lupa, platform seperti ini pada akhirnya juga berlomba menjadi 'media company'. Mengutip dari CNBC Indonesia 23 November 2019, TikTok dilaporkan meraup laba sebesar Rp 100 triliun dari keran iklan digital di China pada semester pertama tahun ini. ByteDance saat ini menjadi startup paling mahal di dunia dengan nilainya diperkirakan mencapai US$75 miliar atau sekitar Rp 1.050 triliun, dan sang pendirinya Zhang Yiming masuk di jajaran orang terkaya dunia.

Kembali ke soal pemasaran musik dengan TikTok, tentunya dalam perjalanan berkarir musik kita tidak hanya sekedar mengejar 'viralitas' sematas. Viral itu bonus menurut saya. Pernah baca dalam satu artikel yang membahas kenapa konten TikTok ini lebih cepat viral, kabarnya adalah karena algoritma TikTok yang mampu membaca gerak dan tarian, satu hal yang tidak dimiliki oleh platform YouTube sekalipun.

Tentunya selain aktif bermedia sosial, bagi musisi masih banyak kreatifitas lainnya yang bisa dikejar. Bagaimana kita mengatur dan mengelola bermusik dan berkesenian secara berkelanjutan adalah hal yang paling utama. Kita hidup dari situ (musik), kita mempekerjakan orang-orang disitu, kita menghibur masyarakat, kita berusaha memberikan manfaat bagi kehidupan banyak orang.

Era internet saat ini saya lihat sebagai 'era kepastian'. Musik ketemu internet, di situlah peluang-peluang bermunculan dan tanpa batas. Peluang dalam genggaman, IMHO. Satu gambaran yang tidak saya miliki saat era 90'an dimana kita masih mikirin cara berjualan kaset dan CD, serta awal-awal dimulainya era internet dengan dial-up (WasantaraNet, Indonet, TelkomNet Instan: mayoritas gen-X mungkin masih ingat).

Kini eranya TikTok dan entah selanjutnya bakal bermunculan media lainnya yang akan membantu dan mendukung kita untuk bisa membantu bermusik dan juga berkreasi tanpa batas...
"Music is a special part of TikTok's creative DNA."

 

Foto: Photopin/The Better Day

Komentar

Postingan Populer