Meningkatnya Penjualan Album Fisik




Tulisan tentang 'Meningkatnya Penjualan Album Fisik' ini mengacu pada satu kolom di koran Kompas pada hari Sabtu 23 November 2019 lalu dengan tajuk 'Geliat Sektor Kreatif'. Disebutkan bahwa data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan pertumbuhan industri manufaktur besar dan sedang (IBS) dan industri manufaktur mikro dan kecil (IMK).

Berdasarkan data BPS, pertumbuhan produksi IBS pada triwulan III-2019 naik 4,35 persen terhadap triwulan III-2018. Ketika dirinci, jenis IBS dengan pertumbuhan tertinggi di periode itu adalah industri pencetakan dan reproduksi media rekaman yang naik 19,59 persen.

Sementara itu, pertumbuhan produksi IMK pada triwulan III-2019 naik 6,19 persen terhadap triwulan III-2018. Di skala ini, industri percetakan dan reproduksi media rekaman juga tercatat naik 16,23 persen.

Saya pun mencoba menanyakan dan mengkonfirmasi data yang dimaksud melalui cuitan Twitter ke akun resmi Badan Pusat Statistik (BPS), dan dijawab dengan pesan berikut:
"Golongan ini menurut KBLI (No : 18) mencakup barang dan kegiatan pendukung yang tak terpisahkan dari pencetakan dan media.

Misal Compact Disk (CD), video rekaman, software dalam disk atau tape, gambar bergerak, DVD, piringan hitam, pita kaset, dan lain-lain"

Dari penjelasan tersebut, asumsi yang coba saya bangun adalah bahwa di era digital yang sangat marak ini, penjualan album fisik milik musisi-musisi nasional kita baik berupa rilisan CD, kaset ataupun piringan hitam nampaknya masih 'menggeliat' dan tercatat ada pergerakan penjualan.

Mungkin saja pihak yang berkepentingan seperti ASIRI (Asosiasi Industri Rekaman Indonesia), yang website-nya terakhir update hampir 5 tahun lalu, bisa memberikan informasi data secara gamblang terkait dengan pertumbuhan reproduksi media rekaman ini ataupun data lainnya yang sifatnya informatif terkait dengan industri musik.

Dengan mengesampingkan album fisik yang dijual di gerai-gerai ayam itu, selama ini kita selalu beranggapan bahwa di jaman serba digital sekarang keberadaan album fisik bisa dibilang 'mati', toko-toko musik/kaset tutup, dll.

Pada kenyataannya ajang Record Store Day Indonesia yang sudah dilaksanakan beberapa kali tiap tahunnya dan tersebar di berbagai kota menunjukkan keadaan yang menggembirakan terkait dengan album fisik. Ramainya rilisan kaset/CD/piringan hitam dari berbagai musisi baik independen atau mayor, lapak-lapak dagangan musik yang terus tumbuh, kolektor-kolektor baru yang bermunculan, dan jangan lupa: kegiatan off-air, konser musik, jadwal manggung musisi, tidak pernah berhenti dan tidak pernah selo.

Di ujung artikel ini, saya tidak membahas hasil yang 'banyak atau sedikit', 'besar atau kecil'... jadi apapun keadaannya, peluang (bermusik & berbisnis musik) itu tetap ada dan terus tumbuh.

 

Sumber: Kompas.id

Foto: Mick Haupt

Komentar

Postingan Populer