Spotify Indonesia

[caption id="attachment_2350" align="aligncenter" width="664"]15966418065_ca394409ba_b Selamat datang, Spotify Indonesia[/caption]

Akhirnya yang ditunggu-tunggu bakal tiba... Begitulah kiranya ungkapan yang paling tepat untuk menyambut kedatangan layanan musik streaming yang berasal dari Swedia, Spotify, yang bakal bisa diakses di Indonesia mulai tanggal 30 Maret 2016.

Pada hari Minggu sore kemarin, kabar tersebut diberitakan melalui akun Twitter @SpotifyID, akun Twitter resmi Spotify Indonesia, akun yang sebenarnya telah dibuat sejak Agustus 2011 jauh sebelum Spotify masuk ke wilayah Asia: Malaysia, Singapura, Hongkong pada Juni 2013, selanjutnya menyusul Taiwan dan Filipina pada April 2014. Demikian juga hal ini diinformasikan melalui akun Facebook Spotify.

Saya sendiri sudah menggunakan layanan musik ini sejak hampir tiga tahun lalu. Awal pertama melakukan akses Spotify, karena belum bisa diakses di Indonesia, dengan menggunakan bantuan VPN baik di desktop ataupun mobile, kemudian baru pada Mei 2014 mulai mencoba sebagai premium subscriber alias pelanggan berbayar US $10 tiap bulannya, dimana saya membeli voucher premium yang bisa di-redeem, sampai dengan sekarang.

Tidak dipungkiri saya langsung jatuh cinta pada akses pertama dengan Spotify. Jauh sekali perbedaan yang saya rasakan saat mengakses platform yang hampir sama seperti: Deezer, Beats Music, bahkan dibandingkan dengan yang terkini Apple Music, sementara Tidal? (hi-fi sound quality? I don't even care!)Spotify is soundtracking my life! Itu ekspresi yang paling tepat dan agresif terkait layanan musik ini. Mulai dari kita bangun tidur, beraktifitas di kantor, menjelang sore, saat di perjalanan balik ke rumah, hingga saat kita mau beranjak ke tempat tidur, Spotify memberikan pilihan playlist beragam yang bisa disesuaikan dengan mood kita saat itu. Mau berapa puluh juta lagu semuanya ada dan bisa dicari di layanan musik ini. Bahkan kadang saya merasakan lost in the digital era, karena sampai bingung mau mendengarkan lagu apa lagi 😊. Keunggulan bagi pengguna premium salah satunya adalah layanan playlist bisa di-unduh untuk didengarkan secara offline.

Berbagai pengalaman dengan layanan musik yang sudah hadir di lebih 58 negara ini, sering saya share di akun Twitter. Terakhir mengenai fitur Spotify Running, rekomendasi lagu secara medley sesuai dengan tempo saat berlari, yang diakses menggunakan smartphone. Jadi misalnya saat saya berolahraga pagi lari-lari kecil, sambil buka aplikasi Spotify di smartphone, si aplikasi mendeteksi berapa tempo kecepatan lari kita. Nah dari situ, kemudian disesuaikan sajian playlist dari Spotify. Untuk experience & interface saya sudah coba Spotify di semua format mulai iPhone, Android, OS X, hingga Windows PC, tidak ada yang mengecewakan.

Saya berharap semoga layanan ini tidak terkendala dengan syarat-syarat PSE (Penyelenggara Sistem Elektronik) asing yang buka di Indonesia, seperti halnya yang terjadi pada Netflix, yang digaungkan pihak Kemkominfo beberapa waktu lalu. Juga seperti dikatakan Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara, yang menyatakan sikap tegas kepada semua penyedia layanan over the top (OTT) yang beroperasi di Indonesia. Semua harus berbentuk usaha tetap (BUT) jika ingin melanjutkan layanannya.

Oiya karena saking 'cintanya', terhitung sudah tiga kali saya coba apply pekerjaan di Spotify via Spotify Singapore. Mulai dari Account Manager - Label Relations (Jan. 2014), Music Editor Indonesia (Des. 2015), kemudian Account Manager - Label Relations Southeast Asia (Mar. 2016). Belum ada yang tembus 😄.

Goodluck, Spotify Indonesia!

Kredit foto: PhotoPin

Komentar

Postingan Populer